online degree programs

Selasa, November 25, 2008

Selamat Hari Guru 25/11/08



Beberapa hari yang lalu saya diundang Pak Lody dan Jimmy Paat, beliau berdua dosen fak.bahasa UNJ, yang kebetulan aktif di Koalisi PEndidikan. Undangannya tuk sebuah diskusi yang kemudian kami namakan Kelompok Kajian Kultural dan Pedagogi yang diback up penuh oleh begawan pendidikan kita, Prof. H.A.R.Tilaar, kebetulan waktu itu beliau juga hadir. Dengan sedikit perkenalan, Pak Jimmy yg pernah kuliah di Perancis dan sempat jadi dosen di sono, menyampaikan paper tentang "Pendidikan Guru dan Neoliberalisme", sebuah tema yang jarang disentuh oleh civitas akademika kita.


Dikemukakannya dengan mengutip Apple, Giroux, Bourdieu & Passeron -ya jelaslah dia kan dari Perancis, hingga nuansa Posmonya lumayan kuat- bahwa pendidikan guru sekarang terkungkung dalam neoliberalisme an sich.

Sekadar tuk referensi bagi yang tertarik adalah Henry A. Giroux, Teacher as Intellectuals. Toward a Critical pedagogy of Learning, New york, Bergin & Garvey, 1988. juga Stanley Aronowitz & Henry A. Giroux, Education Still Under Siege, westport, Bergin & Garvey, 1993 (edisi ke-2).

Yah, kelihatan di komunitas Kelompok Kajian Kultural dan pedagogi asuhan Prof. H.A.R. Tilaar tersebut memang kental nuansa cultural studies, jadi memandang pendidikan tidak dari sisi pendidikan itu sendiri, tapi secara multidisiplin, intradisiplin, dan cultural studies pada tahun 70-an marak di Amrik sono tuk juga memandang pendidikan, muncullah para teoritisi pendidikan kritis. Saya pikir di Indonesia masih jarang yang memandang pendidikan dari sisi tersebut, kecuali Prof.Tilaar dan beberapa intelektual muda yg belum diberi kesempatan oleh sistem yang hegemonik ini untuk bersuara. Prof. Tilaar telah merumuskan pedagogi transformatif, sebagaimana Giroux mengemukakan critical pedagogy, atau bahkan radical pedagogy. Jadi biasa dalam diskusi kami menyebut para pemikir posmodernisme, marxisme, postmarxisme, neomarxisme, dll spt jean-Francoys Lyotard, Jean Buadrillard, Derrida, martin Heidegger, Jurgen Habermas, Adorno, Marcuse, Marx, Gramsci, Laclau & Mouffe, Poulantzas, atau yang lebih familiar di telinga kita seperti Freire, Ivan Illich, Rheimer, dll.

Nah, neoliberalisasi pendidikan guru bagi Pak Jimmy dengan acuan referensi seperti Bourdieu, Apple dan lainnya itu adalah, pendidikan guru tradisional yang hanya menghasilkan guru-guru yang mendukung status quo dan guru pengikut (follower). Di sinilah mestinya, pendidikan guru menjadi salah satu bentuk perlawanan terhadap neoliberalisme. solusinya adalah, (1) mendudukkan pendidikan guru sebagai politik kultural, dan (2) yang diperlukan adalah -dengan mengutip Giroux- guru sebagai intelektual transformatif, Pak Tilar menyatakannya sebagai pedagogi transformatif.

Secara singkat, guru sebagai intelektual transformatif mesti: (1) membuat pedagogi menjadi lebih politis, dan (2) membuat politik menjadi lebih pedagogis. Dengan demikian, memasukkan pendidikan guru dalam ruang publik politik dengan memperlihatkan bahwa sekolah dan kampus merupakan ruang pertarungan makna dan relasi kekuasaan, yang dicoba tutupi oleh kesadaran palsu -kata Marx- berupa ideologi-ideologi itu (bagi Marx kesadaran yang tak palsu, atau kesadaran sejati adalah kesadaran kritis, atau kritisisme tapi bukan dalam pengertian Kantian).

Yah, sampai sekarang sistem pendidikan guru kita, bahkan sistem pendidikan nasional bahkan untuk menyebut sedikit saja, terbitnya kesadaran politik kultural. Guru sekadar mau demo ketika meminta hak gaji, tunjangan, dan kesejahteraan materi saja, rasanya belom pernah saya lihat guru demo tanda tidak setuju sebuah kurikulum top down diberlakukan, atau memperdebatkan sebuah substansi materi pelajaran. Guru sebagai sebuah gerakan kolektif, seperti PGRI sekadar jadi alat politik saja, yah..apa daya.

Saya jadi ingat dalam perkenalan itu, Pak Tilaar memperkenalkan diri denan mengatakan, "perkenalkan, saya...pemberontak!", dan diakhir ulasannya atas materi yang dibawakan Pak Jimmy, Pak Tilaar berteriak, "Merdeka!!!". Ah, betapa malunya saya sama beliau, masih muda tapi semangat memberontak dan memerdekakan diri saya sangat kecil. DI usia yang sudah 70 tahun lebih, binar cahaya idealisme itu masih terang di mata Pak Tilaar, seakan dalam hati saya berkata, "jangan khawatir Pak, jika bukan saya yang meneruskan cita-cita Bapak, saya yang akan mendampingi seribu Tilaar baru tuk berontak dan memerdekakan bangsa ini dari neoimperialisme, neoliberalisme, kapitalisme sialan itoe...!!!". Semoga,

Salam,

Edi Subkhan, di Jakarta

6 komentar:

Anonim mengatakan...

Artikel yang menarik. Bagi bacaan intelektual antek-antek negara...

Abdul Haris Fitrianto. mengatakan...

saya hanya ingin mengutip ulang untuk menguatkan pendapat mas edi yang menarik:
"rasanya belom pernah saya lihat guru demo tanda tidak setuju sebuah kurikulum top down diberlakukan, atau memperdebatkan sebuah substansi materi pelajaran. Guru sebagai sebuah gerakan kolektif, seperti PGRI sekadar jadi alat politik saja, yah..apa daya"
hehehe

Anonim mengatakan...

Bagaimana pendidikan di arahkan ke timur, etika, spirtualitas, kolektivitas, penyatuan akal budi dengan laku? menuju keselarasan antara manusia dengan alam? menegasikan aku, bahkan hilangnya "aku-aku", yang ada hanyalah mengikuti kehendak alam, dan memakai jalan iluminatif. Mengombinasikan antara penyelidikan menggunakan akal dan kontemplatif (diskursif dan intuitif)?

Anonim mengatakan...

Hidup Guru!!!

Anonim mengatakan...

Om Luluk, itulah yang dikatakan Muhammad SAW, di Indonesia juga dikemukakan oleh Pak Tilaar, Bahruddin, Romo Mangunwijaya, Driyarkara, dll...

Hanya terkadang ada orang-orang yang sok tahu tentang pendidikan saja yang menganggap para pemikir pendidikan Indonesia lingkung hehe...padahal yang lingkung ya dia sendiri hehe...

Anonim mengatakan...

jawaban sing orak muaske nemen. kolek jawaban dewelah....filsafat timur?