online degree programs

Sabtu, Oktober 11, 2008

Sekedar Meminta Izin

Terkait dengan sebuah komitmen yang beberapa waktu lalu telah tersepakati, dan juga telah tercicil bersama.

Ya, “mainan” itu (selanjutnya tanpa tanda petik), adalah mainan yang kita buat bersama. Mainan kita ini memang tak se-kualitas dengan supertoy, seperti yang diidamkan Pak Saratri, yang ditujukan untuk meng-counter ketinggian sang superpower yang jauh seberang sana. Mainan kita ini, yang kita baca dengan mengeja, yang kita obrolkan sembari menghisap asap, yang kita ketik dengan amarah membuncah, juga yang kita posting dengan meretas cemas, sekali lagi bukanlah mainan mewah. Mainan kita ini mainan sederhana, yang kita buat dengan cara sederhana, dengan anasir yang sederhana, di tempat-tempat yang sederhana, dengan tekhnik yang sederhana, dan jika saya adalah Sapardi Djoko, maka juga akan saya katakan mainan ini adalah mainan yang kita cintai dengan sederhana pula. Sederhana, tetapi menyimpan sesuatu yang tidak ringkas.

Ataukah mainan kita ini bukanlah mainan? Mungkinkah mainan ini adalah sebuah perjuangan? Saya tak begitu peduli dengan perjuangan. Tetapi mainan yang telah merajut komitmen itu tentu tak bisa lepas dari kata, sementara Rendra mengatakan bahwa perjuangan adalah me-laku-kan kata. Maka, baik perjuangan yang heroik ataupun mainan yang mengasyikkan, mainan ini tetap menyisipkan “perjuangan” di sela-sela partikelnya. Tetapi entah, jika kita tak sepakat dengan Rendra.

Mainan kita ini, telah menjalani beberapa persen proses pem-benda-annya. Kita semua tahu, mainan kita tak bisa terwakili oleh sekedar himpitan cover depan dan belakang. Kita semua tau itu. Tetapi bukankah salah satu rule of game dari mainan ini, adalah mengajak siapapun untuk ikut bermain bersama kita? Siapapun. Maka dengan benda yang masih embrio itulah, salah satu ketaatan kita pada rule of game dari mainan kita ini.

Mainan kita ini, telah beberapa persen. Dan sejak semula, saya telah beberapa kali disentil oleh beberapa dari kita, untuk ikut menurunkan tangan dalam pembuatan mainan ini. Maka dari itulah, perkenankan saya, melalui ini, untuk meminta surat perizinan. Dalam “mal” yang telah di buat oleh mas edi, juga di-iya-kan oleh mas yogas, saya akan mencoba menyusun puzzle.

Ah… Beberapa puzzle terlalu kecil, beberapa yang lain terpotong dengan kurang rapi. Ingin sekali saya merapikan puzzle-puzzle itu. Tetapi ternyata puzzle-puzzle itu bukan dari pabrik yang sama.
Bisakah, masing-masing pabrik melengkapi puzzle-nya?


Fah

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Iya mi, maafin mas ya klo gak bisa di andelin. Tapi entar sms aja, cos akhir-akhir ini aku merasa tulisanku yang dulu jauh dari apa yang disebut layak diterbitkan. Tapi gak apa2, banyak temennya yang kayak gitu, kwa kwa kwa.
Entar klo ada apa, tinggal sms ja, nanti tak bantu

Anonim mengatakan...

Beribu maaf, teman2. Karena Fahmi adalah origin Jepara, maka dia menyebut rancangan yang telah disusun Mas Edi sebagai "mal", bagan awal sebuah ukiran yang lazim dipakai para pengrajin ukir dari Jepara. Maka, mari segera memahat mal-malan itu menjadi sebuah ukiran betulan. Kongkritnya : mari kita memperbaiki tulisan masing-masing yang sekarang didokumentasikan Luluk dan Fahmi. Perbaikilah diksinya, tamballah kebocoran datanya, perhaluslah tutur katanya, perdalam konteks ulasannya, pertajam pisau kegundahan dan perkuat tamparannya, tak lupa kurangi sedikit demi sedikit ke-aku-annya. Serahkan kembali kepada Fahmi sebelum 30 Oktober 2008. Kemudian kita melangkah ke tahap layout dan naik cetak. Adalah berkah bagi teman2 yang mempunyai banyak tulisan, dengan konsekuensi harus pula lebih banyak meluangkan waktu dan memeras pikiran untuk meng-editnya. Adalah berkah pula bagi teman2 yang mempunyai sedikit tulisan, sembari berpikir bahwa kata Rendra via Fahmi : gerakan adalah me-laku-kan kata. Jangan berharap bergerak untuk melakukan, wong kata saja tiada berpunya...
Mari, teman2, bersua dulu kiranya lebih bai, sembari berbudaya halal bil halal-an...
Yogas Ardiansyah

Anonim mengatakan...

Ya...dan setelah itu kirim ke email saya dulu ya...buat tak kasih ancer2 lay out yang minimalis dan seksi hehehe..... gini-gini pernah belajar ng-lay out loh hehehe....

tak tunggu ya mas fahmi...nar kita coba format buku saku yang eye catchy...

Ed Khan