online degree programs

Sabtu, Mei 17, 2008

Demokrasi, Islam, dan Negara Kita

Maaf sudah sekian lama saya tidak ikut nimbrung diskusi di blog ini, banyak gawean dan lagian internet di kantor saya belum conect.

Sebenarnya diskusi akan lebih menarik tentang demokrasi dan Islam (ini sedikit menanggapi posting yang “menyoal” hal itu sebelumnya), tapi sayang sekali penanggap yang saya yakin masih memiliki kaitan genealogis dengan kelompok hizbut tahrir, ikhwan al-muslimin dan teman-temannya tidak menggunakan kaidah debat dan adu argumentasi yang ilmiah, hingga sulit menemukan poin apa yang sebenarnya ditentang, dikritik, dan menjadi solusi. Seakan yang dikemukakan adalah sebuah orasi kebenaran mutlak yang harus diyakini kebenarannya oleh siapapun dalam hal apapun. Ini naif bagi saya.

Sebuah dialog akan terbangun dengan bagus jika didahului oleh keinginan untuk mencari sebuah kebenaran, bukan pembenaran. Termasuk mesti diniati dengan keterbukaan diri, bukan sekadar mempersiapkan argumentasi defensif untuk menang. Keinginan mencari kebenaran bukan berarti tidak yakin dengan kebenaran yang diyakini, tapi tetap membuka kemungkinan-kemungkinan bahwa kita baru sedikit mencecap kebenaran, dan masih ada kebenaran lain yang lebih luas, dalam, dan mendasar. Jadi adalah sebuah kerendah hatian, bukan kesombongan.

Jika berangkat dari bahasan Islam, maka saya meyakini sepenuhnya kebenaran Islam saya, namun bukan berarti saya mentup diri dari kebenaran universal yang ada dan tumbuh dari yang selama ini dianggap bukan Islam, misalnya Barat, termasuk filsafat. Bagi saya Islam adalah universal, rahmat bagi seluruh alam ini, Timur dan Barat, semuanya tanpa terkecuali. Filsafat adalah proses berpikir, dan berpikir itu sangat Islami sekali. Al- Quran sangat menganjurkan berpikir bukan? Berfilsafat. Islam sepemahaman saya, tidak ada suatu apapun di dunia ini yang tidak ada dalam rengkuhan Islam.

Demokrasi apalagi, secara substansial ia sangat Islami. Dalam urusan pemerintahan, strategi perang, sosial-masyarakat, rasul mengambil pendapat dari para sahabat, ini adalah bentuk demokrasi sederhana bukan? Memang bagi yang intens mempelajari hubungan negara dan Islam, tentu tahu terdapat dua pendapat, yakni demokrasi bagian dari Islam sejak sononya, dan Islam bagian dari demokrasi. Apapun itu, bukankah demokrasi merupakan ijtihad politik tatanegara? Sebagaimana kehalifahan, imperium Umayah, Abbasiyah, sampai Turki Utsmaniyah. Bukankah wilayah menata negara dan masyaarkat ada pada ruang-ruang ijtihan manusia? Tunjukkan pada saya kalau memang Allah memerintahkan umat Islam untuk membentuk kerajaan, republik, atau demokrasi, sejauh pengetahuan saya tidak ada. Yang Allah perintahkan adalah tetap berbegang pada hukum-hukum Allah (hablu minnallah).

Memang saya agaknya mulai menemukan simpul-simpul kecil –sebagaimana penelitian skripsi saya- bahwa para “intelektual” dari kalangan Islam kanan dalam mengembangkan keilmuannya lebih pada “meneguhkan” yang telah ada, bukan memberikan “pencerahan” baru, menerobos tabir-tabir kelam dan kemudian memberikan sesuatu alternatif solutif. Coba lihat saja argumentasi, landasan teori, dan hasil karya mereka; lebih banyak meneguhkan apa yang telah digariskan oleh para pendahulu mereka, sedikir saja yang berani mengkritisi dan kemudian membuat bangunan baru teori, konsep, solusi, berdasarkan pada nash-nash yang ada.

Dus, saya sangat apresiatif sekali jika diskusinya menjadi lebih terfokus, terarah, dan jelas dengan keterbukaan-keterbukaan, bukan dengan stereotype negatif, jangan ada prasangka terlebih dahulu. Sedikit simpul yang saya temukan di depan ndak bisa dikatakan prasangka, karena sudah ada bukti, data, faktanya; klo gak percaya ya coba observasi makalah, paper, artikel, buku dan hasil penelitian dari kalangan Islam kanan.
Ini sekadar memancing diskusi lagi, masak saya sampai sekarang tidak mendapatkan pencerahan dari teman-teman Islam kanan.... justru saya senang berbincang dengan pak Amin Ma’ruf (MUI) yang sistematis dan logis, dan beberapa kalangan Islam kanan lainnya.

Jika mau berdebat soal konsep negara dan Islam, yang meniscayakan membincangkan ideologi-ideologi kontemporer nasionalisme, transnasionalisme, dan lainnya. Silakan kemukakan konsep kenegaraan ideal yang Anda yakini kebenarannya, dan mungkin kewajiban mendirikannya, misal khilafah Islamiyah, atau apalah namanya. Kemudian dianalisis kritis, dengan kritk sejarah bentul-bentuk pemerintahan yang telah ada termasuk yang lahir di Timur Tengah, Nusantara seperti kerajaan Aceh, Demak, Pajang, Mataram Islam misalnya. Termasuk juga kritik hermeneutik teks-teks keagamaan (al-Quran dan hadits) yang dirasa merupakan legitimasi yuridis formal Islam untuk mendirikan konsepsi ideal negara tersebut. Itu baru diskusi sip, jangan cuma argumentasi emosional debat kusir saja.

Oh, iya sedikiti catatan saya dari Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki (16/5/08) kemarin; di antara yang hadir ada Bang Rizal Ramli yang “secara rahasia” dituding oleh BIN menunggangi protes mahasiswa atas BBM, beliau dengan tegas mengatakan tidak ada itu. Justru yang patut dicurigai –dan ini sudah ada data faktanya- kebijakan pemerintah tersebut lebih banyak ditunggangi kepentingan politik dan korporasi daripada membela rakyat. Kawan-kawan mahasiswa ada banyak cara yang dapat ditempuh selain menaikkan BBM untuk menyelamatkan APBN dan APBN Perubahan (APBN-P). Minyak kita berlimpah tapi diekspor terus hingga dalam negeri kehabisan stok, yang untung yang ekspor, dan harganya dipatok oleh Singapura. Kenapa mesti diekspor, itu karena tekanan global dan Pertamina dibodohi bahwa minyak mentah Indonesia hanya dapat diolah dengan campuran minyak dari luar. Akan lebih efisien jika memperbaiki kilang minyak kita, hingga dapat mengolah sendiri untuk terutama memenuhi kebtuhan dalam negeri.

Tak hanya itu, 30 persen APBN kita digunakan untuk mencicil utang luar negeri, dan sisanya digunakan untuk banyak sektor. Bidang pendidikan misalnya, itu cuma sisa dari biaya untuk bayar utang, dan ironis yang diutamakan bayar utang adalah bayar bunganya saja. Rasanya di 100 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia, negara kita kayak temen-temen mahasiswa hehehe.... yakni, klo gak ada duit jual jeans, baju, HP, lha negara kita jual BUMN, klo gak punya duit ya utang...negara kita utang luar negeri, dan klo sudah mentok ya naikin harga.... itu karena ekonomnya semua dari Berkeley, mulai Widjojo dulu sampai Sri Mulyani, Boediono, dll. Lalu apa yang mesti dilakukan sahabat-sahabat.

Okey....lanjutkan diskusinya, tentang negara, Islam, dan ....semuanya

Edi Subkhan, penulis.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

bicara demokrasi, jelas!!
bicara Islam, juga jelas!!
bicara umat islamnya!! nah ini dia yang keto'e kok ???
apalagi bicara Negara kita!! waduh bukan cuma ga jelas, tapi memang sudah hancur.
jika demokrasi adalah dari rakyat untuk rakyat, siapa yang salah di negara ini?? dari rakyat kok tidak kembali kerakyat, e'eh malah lari entah kemana.
Indonesia seharusnya menjadi negara yang makmur sejahtera dengan SDA yang ada. saya ingat dengan komentar pak Amin rais yang mengatakan bahwa pemerintahan SBY-Jusuf KOLO adalah pemerintahan yang paling bodoh.
jika pendidikan sangat mahal dan tidak terjangkau bagi petani yang sudah kehilangan lahannya, bagi nelayan yang kehilangan perahunya, lalu mereka tak mampu bayar sekolah anaknya. mumet, dan jatuh sakit. waduh.. biaya kesehatan malah lebih mahal daripada sekolah. terus bagaimana Negara kita akan maju, jika masyarakatnya ga bisa sekolah, sakit, ga bisa makan lagi. satu hal yang bisa dilakukan adalah REVOLUSI atau mati dengan keadaan seperti itu.
sori jika ngompori..
setidaknya untuk pemilu 2009, jangan sembarangan pilih presiden karena janji-janji yang diberikan. jika calon presiden sebelum terpilih tidak ada yang berani kontrak politik dengan rakyat, lupakan saja dan buang jauh2..

membentuk Negara islam, apakah perlu?? lebih perlu mana dengan membentuk masyarakat atau Individu yang Islami?? jika Indonesia sebagian besar warganya adalah Islam dan memegang teguh syariah islam dalam diri pribadi, saya kira itu akan lebih harmonis untuk menjalankan kehidupan bangsa dan negara ini. bukan hanya teriak2 saling menyesatkan, bukan sekedar teriak2 dijalanan "malah diutuduh ditunggangi(emange kuda)" bukan hanya saling menjelekan, meskipun wajar bagi kita yang lagi belajar untuk belajar.
kembali kepada negara kita!!
memang mengecewakan lahir di Negara yang presidennya pribumi tapi pemimpinnya adalah orang ASING!! bukankah begitu?!~ kita punya beras, punya minyak, punya ikan, punya kayu, punya rempah2, punya emas baja dan tambang lainnya. tapi semuanya yang mengendalikan adalah orang asing. rakyat kita tetap kelaparan, BBM mahal dan langka..
dan yang lebih MEMALUKAN lagi adalah alasan yang digunakan para menteri dalam mengambil kebijakan yang cenderung mengacu pada KEPENTINGAN luar negeri ketimbang dalam negeri, dan bodohnya lagi Presiden mengemukakan itu dalam pidato khusus untuk menarik simpati rakyat agar memaklumi kondisi tersebut. kalo presiden memohon belas kasihan dari rakyat, BAGAIMANA DENGAN RAKYAT YANG SUDAH DIBUAT SUSAH DAN MENDERITA YANG JUSTRU DIMINTA UNTUK MAKLUM, BINGUNG KAN KITA???
KEPADA SAUDARA2 DISELURUH INDONESIA AYO BERGERAK MEREBUT KEMBALI APA YANG SEHARUSNYA MENJADI MILIK KITA.. TAPI INGET GERAKNYA BARENG2 YA, JGN SENDIRI2 APALAGI BEDA KELOMPOK BEDA KEPENTINGAN. MENDING TIDUR AJA, DARIPADA PERANG SENDIRI NEGARA NEGARA MALAH TAMBAH ANCUR!! BERSATU... BANGKIT, DLM KEBANGKITAN NASIONAL!!
oke, nanti lanjut lagi
bagaimana dengan yang lain??