online degree programs

Jumat, Januari 25, 2008

emboh

Waktu,,,,,,

demi waktu yang merenggut umurku, huruf demi huruf, bait demi bait,

dan demi malam yang dingin berubah jubah,

diantara lampu-lampu neon yang merampas keheningan itu,

maka kemana lagi kan kau tambatkan sepi ini Duh istriku,

jika aku tidak lagi seperti yang dulu dimana cinta memuja kita,

yaitu saat air melumuri seluruh tubuh ini tanpa kepentingan, tanpa selimut yang menutup ketelanjangan hati kita, hingga hatiku dan hatimu tertidur bersama ilalang yang tumbuh dibawah gedung-gedung megah itu,sampai sore mesra menjemput umurmu,

Ahh,, bagaimana kau akan mengenangnya istriku…

Dan Kembali,

Aku ingin kembali dimana wadal ini pernah digambar luka sejarah desa,

Bersama ribuan kotoran yang tercecer dalam setiap jengkal tanah ,

hingga kehidupan berjalan apa adanya,

tidak ada sekat yang menutup persetubuhan hati ini,

selain ketulusan dan ketulusan dan ketulusan untuk hidup bersama,

untuk hidup sebagaimana awalnya kehidupan ini telah menghidupkan kita,

Aku ingin kembali hidup apa adanya, apa adanya, laiknya syair yang aku tulis dari cintaku pada siapa saja,,,,

Bagaimana kau akan mengenangnya Duh istriku,

Jika langit sudah terbungkus bau anyir darah,

Bumi tergeletak dikotak sampah,,

Agama, kapitalisme, sosialisme, modernisme, dan lain-lain penyakit itu telah

Mewujud sebagai kreasi penghancur keadilan, kemanusiaan, pun ketulusan itu??

Ah,,Bagaimana kau akan mengenangnya…

Jika raut muka ini layaknya sesaji, bau menyan yang menghadirkan mimpi-mimpi, sementara orang-orang terpaku dalam kebodohannya, hingga kejujuran tinggallah harapan kosong, kemanusiaan tertambat di ujung langit, kelaparran menjadi anekdot perwakilan rakyat dan ketuhanan sekedar basa-basi kebijaksanaan.

Lihatlah anak-anakmu istriku,,,

hutan menangis dalam galau kemanusiaan, naluri tinggal disepertiga malam yang terkutuk, air mata tercecer disudut-sudut kota, sementara diatas sana hujan kata menindih kepala, orang-orang terbangun menjadi mayit karena desa tidak lain hanyalah selilit, selilit, selilit, dan selilit........

bencana tidak ubahnya kebudayaan negeri para pendosa, yang dibingkai dalam kardus-kardus dongeng dan carut marut kepentingan........istriku,,,

dengan apa kau akan mengenang sejarah ini,

jika kertas dan tinta saja kau tidak akan mampu membeli??

Ohh....Duh Gusti, Sang Hyang Manon,,punjering bumi.......

aku sekedar bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, bertanya, bertanya dan bertanya......

Tirta rahayu bumi ing ati, bumi yang tertindas dalam makam kebiadaban dan kutukan yang terkutuk...

Maaf, Embun pagi muncul disekujur tubuhku maka perkenankan aku segera menuntaskan rokokku…..

Duh , Sarjana Muda

Cahaya yang terbit di ufuk timur,

Bermain dengan embun pukul enam, menggigil, ngantuk dan laen-laeen

Bersimpuh dibangku penyeragaman pikiran-pikiran

Tergopoh-gopoh dirimu, menjinjing segenggam senyum orang tuamu

Didalam apeknya tas yang tak pernah kau cuci,apalagi baru……

Pula Deretan keinginan yang terbit sebelum fajar menunjukkanmu pada dunia,

Pada kemanusiaan, pada keadilan,pada tanggung jawab, pada kebermaknaan dan pada pada-Nya

Cahaya yang terbit diufuk timur,

Masyuk Berceloteh dengan suara burung

Yang mengajarkanmu tentang keindahan cinta, sebentuk hidup itu,,

Tentang kearifan dari segala kearifan, tentang kesombongan para bijaksana,

bahkan tentang kematian kesadaran,

Tentang kebohongan, tentang keculasan, tentang kegilaan orang-orang waras

Tentang segala-galanya, sampai dirimu tak mengerti apa-apa

Sampai dirimu memahami bahwa siang yang panas itu berhak untuk menjadi dingin

Sampai dirimu menyadari kehadiranmu, existensimu, kepergianmu adalah fatamorgana

Ingatlah bahwa Kita tidak sedang hidup, melainkan hanya memainkan scenario drama

Kita hanya diperkenankan melakukan improvisasi dari peran-peran kita…………………

O, cahaya yang terbit dari ufuk timur

Lihatlah waktu harus menyelesaikan waktumu

Dan kau harus bergegas pergi, pergi, pergi dan pergi,,

Kemana aku sendiri tidak tahu

Sampai mana aku sendiri tidak tahu

Dengan siapa aku sendiri tidak tahu

Untuk siapa aku juga tidak tahu

Dengan apa aku juga apalagi tidak tahu

Yang aku tahu, aku harus menghadapi kegelapan dari segala kegelapan

Serangkaian Tipuan lampu-lampu malam,,,,,, itu saja

Cahaya yang terbit di ufuk timur,

Aku tidak mengerti apa-apa, tidak memahami apa-apa, tidak menyadari apa-apa

Aku hanya seonggok daging yang diberi batas gelar, dan sanjungan akademis

Tidak lebih dari itu, tidak lebih dari itu

Orang-orang didalam gedung itu hanya menyulapku menjadi sore,

Sedangkan aku sendiri tidak pernah mengerti tentang waktu,

Mereka hanya menyulapku, menyulapku, menyulapku dan menyulapku……..

Semoga Tuhan mengampuni semuanya

Semoga Tuhan menyadarkan semuanya

Semoga Tuhan memahamkan semuanya

Dan semoga ini memang benar-benar kehendak-Nya

Bahwa saya sekarang adalah sarjana muda……

1 komentar:

KOMUNITAS EMBUN PAGI mengatakan...

barangkali Tuhan, waktu dan definisi konsep (Sarjana, Desa, kota, kapitalisme, sosioalisme, modernisme) memang sebenarnya tidak ada, yang ada hanya ketakutan akan keberadaan kita...