online degree programs

Senin, Januari 21, 2008

KEKUATAN DETERMINASI: SOLUSI PENGANGGURAN

Oleh : Giyanto


“Ini hutanku, telah lama aku berburu di sini, dan aku tidak akan takut…

(Apocalypto)

Ketika manusia masih berburu dan meramu, apa yang dibutuhkan manusia sudah tersedia. Manusia tinggal mengambil kebutuhan makanan (daging dan buah), pakaian (walaupun dari kulit pohon) dan kesemuanya tersedia di hutan. Dengan kata lain, alam membiarkan manusia mengambil secara cuma-cuma apa yang ada di alam. Itu yang saya sebut sebagai siklus tahap pertama. Ketika sistem sudah tersedia bagi manusia, dan manusia tinggal bergantung pada sistem yang ada di sekitarnya.

Permasalahan muncul, ketika suatu sistem sudah tidak dapat menampung manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan manusia semakin kompleks, masyarakat semakin teorganisasi, kebutuhan yang lain muncul dan manusia membutuhkan kepastian. Siklus tahap kedua dimulai. Tahap dimana manusia mulai mengenal bercocok tanam, dikarenakan persediaan alam semakin menipis, manusia tidak dapat lagi menunggu dengan sendirinya sampai alam menghasilkan kebutuhan yang diperlukan. Sehingga dikenalah cara bercocok tanam. Manusia mulai mengorganisir semua kebutuhannya, pembagian kerja dilakukan. Masyarakat muncul membentuk kebudayaan, dan kebudayaan membentuk peradaban. Terbentuklah masyarakat pertanian.

Perkembangan berlanjut, kebutuhan akan konsumsi massa mendesak manusia untuk mengolah hasil pertanian secara massal. Secara revolusioner, munculah masyarakat industri. Manusia memerlukan sistem pengolahan barang produksi dan pemasaran yang canggih. Akan tetapi, dalam perkembangan ini, masih dalam kategori siklus tahap kedua. Dengan jumlah perbadingan, “sedikit” menggerakkan yang banyak, yang “banyak” mengejar nafsunya. Yang sedikit tersebut, yaitu kaum kapitalis, manusia yang memiliki ciri khas sendiri. Rakus!

Sosialisme dan komunisme mencoba menjawab permasalahan kapitalisme, namun tidak mampu bertahan lama. Prinsip kemanusiaan bergerak dengan sendirinya. Tahap ketiga mulai berproses. Sistem yang dibuat kapitalisme tidak mampu menjaga keseimbangan. Kapitalisme sendiri resah. Kemudian apa yang menjadi prediksi Alvin Tofler dua puluh tahun yang lalu telah terbukti, masyarakat industri runtuh, dalam istilah Tofler, masa Gelombang Ketiga yaitu masyarakat komunikasi dan informasi yang lebih kreatif.

Menurut pengamatan penulis, apa yang terjadi saat ini mirip dengan kondisi ketika manusia beralih dari berburu dan meramu menuju masyarakat pertanian. Kemampuan sistem yang dibentuk manusia sendiri mengalami keterbatasan. Akibatnya, pengangguran dan ketimpangan sosial yang cukup tinggi. Knowledge to create the new system tidak dimiliki seluruh masyarakat. Sehingga menyebabkan ketergantungan. Negara, sebagai harapan terakhir, seperti kata Fukuyama, tidak dapat menjaminnya.

Saya kira yang menjadi permasalahan ialah bagaimana menyadarkan hal ini pada kita semua. Bahwa sistem sosial yang ada sudah tidak memadai. (Bukan berarti saya mengusulkan dibentuk Lembaga Pemerintahan Baru untuk menampung pengangguran agar dapat menjadi PNS). Itu menurut saya solusi yang tidak masuk akal. Sebaliknya, kita seharusnya memanfaatkan kecerdasan manusia dalam hal penciptaan dan penentuan pilihannya sendiri. Suatu sifat dari manusia yang membedakannya dengan binatang. Is to create!

Apa itu kemampuan menderteminasi? Ialah dimana seseorang memiliki tingkat kesadaran dan kemampuan tertentu dalam menelaah, merancang dan menciptakan pilihannya sendiri baik untuk dirinya sendiri maupun untuk lingkungan sosial ataupun bagi generasi sesudahnya. Kesadaran ini muncul karena manusia bersandar pada prinsip-prinsip kebebasan. Pikiran yang tidak terjajah oleh faktor-faktor eksternal, pelemahan mental, pengaturan yang kaku dan sebagainya. Kemampuan determinasi diperlukan manusia untuk mengarahkan nasibnya sendiri. Mengubah nasibnya sendiri daripada menunggu nasibnya dirubah oleh Tuhan.

Namun demikian, baik dalam perspektif sejarah, budaya dan nilai-nilai sosial yang ada di sekitar kita, sering malah membunuh apa yang saya sebut kekuatan determinasi. Bagaimana tidak, lebih dari 3 abad kita terjajah, kita hidup dalam budaya paternalistic serta ditambah salah pengertian terhadap nilai-nilai agama dan pendidikan. Serta pemahaman tersebut ditransfer dari generasi ke generasi melalui institusi-institusi formal yang ada. Baik agama maupun lembaga pendidikan.

Giyanto. Pengamat Sosial, Tinggal di Semarang
Artikel bersambung pada posting berikutnya

5 komentar:

Anonim mengatakan...

Saya tidak terlalu paham maksud "determnisme' yang dipakai kang Gi kali ini, apakah mirip determinisme marx atau apa...tapi bagaimanapun juga kata "determinisme" ini cukup seram...seseram materialisme historis Marx he...bukankah semestinya yang layak digunakan adalah lawan dari determinasi, yakni kemampuan mengakomdasi semuanya yang potensial digunakan? tanpa menafikan satu potensi pun? diskusinya yang kopi darat dijalankan juga ya...jangan sampai mandeg, kapan2 klo ada waktu tak ke Semarang turut berdiskusi lagi...sambil bawa info dari Jakarta...

Edi Subkhan, Jakarta

Anonim mengatakan...

Saya tidak terlalu paham maksud "determnisme' yang dipakai kang Gi kali ini, apakah mirip determinisme marx atau apa...tapi bagaimanapun juga kata "determinisme" ini cukup seram...seseram materialisme historis Marx he...bukankah semestinya yang layak digunakan adalah lawan dari determinasi, yakni kemampuan mengakomdasi semuanya yang potensial digunakan? tanpa menafikan satu potensi pun? diskusinya yang kopi darat dijalankan juga ya...jangan sampai mandeg, kapan2 klo ada waktu tak ke Semarang turut berdiskusi lagi...sambil bawa info dari Jakarta...

Edi Subkhan, Jakarta

Anonim mengatakan...

dalam buku ilmu metafisika yang baru saja ku baca kmrn, ternyata sangat menitik beratkan aspek kesadaran, atau kesadaran adalah kunci untuk menata hidup (mgkn psiko fungsionalisme), bagaimana seseorang dapat menggunakan kesadarannya dengan optimal..benar juga kalau selama ini manusia tiak pernah menggunakan kesadarannya dengan optimal...termasuk kita...
dalam kajian ini kalau aku tidak salah mengartikan,berarti,determinasi adalah kekuatan kesadaran untuk mengenali diri sendiri dan menyusun sikap2 guna meraih cita2 atau tujuannya. gitu ya mas Gi? berarti segala usaha digunakan untuk mencapai tujuan/masa depan ?
(kayaknya mirip dg teleologi Adler)...

Anonim mengatakan...

bahkan sampai sekarang kang Gie belum komentar tentang pertanyaan saya akan determinasi....
"determinasi" secara leksikal itu berarti "menghilangkan"...energi, konsep, gerakan, dan aktivias "menghilangkan" bagaimana bisa digunakan untuk "membangun"...ini contradictio in terminis Kang... terminologi yang artinya saling bertentangan secara substansial, antara maksud dan istilah yang digunakan "nylewah" dlm bahasa Jawanya..

tentang kesadaran baca Freire khusus dalam pendidikan kritis mengenai (1) kesadaran magis, (2) kesadaran naif, dan (3) kesadaran kritis.

Edi Subkhan, di Jakarta

Anonim mengatakan...

maaf, buat kang edi, ak baru saja masuk blog ini, coz sibuk buat proposal skrip. tp ak coba jawab.
istilah ini memang biasa dipakai dalam bahasa motivasi,kaum kapitalis,he2. jadi kalo diartikan secara leksikal(kerennya,he2)memang jauh dari makna aslinya. dan dalam paham pemikiran geografi, malah ini lebih ekstrim. karena artinya manusia tidak bisa menentukan apa2,artinya alam yang menentukan. jadi istilah ini memang meminjam pemikiran sosial tapi digunakan untuk pengembangan kemampuan personal. jadi hasilnya tidak klop. Gitu!!!