online degree programs

Minggu, September 27, 2009

Pernikahan dan Paradigma Penjajahan yang Menyertainya: Sebuah Kritik dan Autokritik terhadap Generalisasi



Isu terkait pernikahan telah banyak digagas oleh para pejuang pergerakan feminisme, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Namun demikian, permasalahan yang diperjuangkan oleh feminis luar negeri dan feminis dalam negeri, tampaknya tidak selalu sama, tentu saja karena perbedaan kehidupan ekonomi, sosial, politik, budaya, ideologi, dan sebagainya di masing-masing tempat.

Dalam permasalahan terkait pernikahan, para feminis luar negeri banyak memperjuangkan tentang kesetaraan hak wanita dalam kehidupan rumah tangga, keseimbangan tugas mengasuh anak antara ayah dan ibu, hak seorang istri untuk menolak berhubungan seksual dengan suaminya, dan sebagainya. Bahkan pada poin yang paling ekstrem, pernah digagas oleh Sheila Cronan mengenai abolisi pernikahan. Cronan berpendapat bahwa pernikahan merupakan suatu bentuk perbudakan terhadap wanita, dan kemerdekaan kaum wanita tidak akan pernah diperoleh tanpa adanya penghapusan pernikahan.

Sementara itu, berbeda dengan tren gerakan feminisme di luar negeri, para feminis Indonesia dalam permasalahan terkait pernikahan, lebih cenderung memperjuangkan penolakan dan pengaturan terhadap poligami; pencatatan perkawinan, perceraian, serta rujuk; perlindungan terhadap kekerasan dalam rumah tangga dan penelantaran; dan sebagainya. Hal yang lain juga, para feminis negeri ini, mulai dari generasi Kartini hingga generasi Gadis Arivia, merupakan para ibu dan istri yang baik dalam kehidupan rumah tangga mereka. Maksud penulis, setidaknya para feminis negeri ini tidak pernah menggagas sesuatu yang seekstrem abolisi pernikahan.

Penulis sejujurnya tidak pernah menisbatkan diri sebagai seorang feminis atau pejuang feminisme. Namun, sebagai seorang manusia dan semakhluk wanita, penulis seringkali dibuat teriritasi oleh sejumlah fenomena yang terjadi di sekitar. Kalau boleh dimasukkan juga, termasuk gagasan Cronan mengenai abolisi pernikahan yang secara tidak sengaja pernah terbaca beberapa waktu lalu.

Gerakan ini barangkali tidak perlu mengusung nama feminisme, yang pada akhirnya memberi definisi paham yang mewakilkan seluruh dan setiap wanita yang ada di dunia. Pada kenyataannya, tidak setiap dan seluruh wanita sepaham dengan setiap gagasan yang mengandung label feminis. Setidaknya penulis, satu dari sekian milyar wanita yang tengah hidup di dunia, tidak selalu menyepakati setiap gagasan yang dimunculkan oleh tokoh pejuang pergerakan feminisme.

[Seperti disadarkan oleh Masyhur Aziz Hilmy empat tahun silam: menjadi bagian dari suatu keseluruhan bukan berarti memiliki dan mewakili keseluruhan, walaupun bagian-bagian tersebutlah yang memiliki wewenang untuk menyusun kelompok representatif untuk mewakili keseluruhan massa. Namun ironisnya, masih banyak wakil-wakil yang menyuarakan gagasan pribadi atau golongan lebih dari gagasan keseluruhan yang mestinya diwakilkan.]

Dalam pandangan pribadi penulis, terdapat sejumlah gagasan feminisme yang justru melakukan penjajahan terhadap kemerdekaan kaum wanita. Pun terdapat gejala-gejala yang ada di masyarakat terkait masalah pernikahan, yang merupakan bentuk penjajahan terselubung terhadap manusia-manusia yang menjalani pernikahan tersebut, tidak hanya kaum wanita (ini yang baru bisa penulis sebut sebagai kesetaraan, yakni tidak menafikan peran kelompok lain yang turut terlibat dalam suatu permasalahan).

Untuk gagasan mengenai abolisi pernikahan, misalnya. Kelompok wanita yang secara serius menjalani dan memuliakan peran serta tugasnya sebagai seorang istri dan ibu tentu saja akan merasa bahwa gagasan tersebut melakukan penjajahan terhadap kebebasannya dalam melakukan perjuangan. Setidaknya terdapat puluhan wanita yang penulis kenal telah atau berniat untuk mendedikasikan dirinya menjadi pahlawan di balik peran ibu dan istri. Penulis sepakat bahwa seorang wanita dapat menjadi pahlawan bagi kemanusiaan, hanya dengan menjalankan tugasnya sebagai ibu dan istri (tanpa menafikan realitas bahwa seorang wanita dapat juga menjalani peran-peran luar biasa lainnya secara sekaligus) dengan sebaik-baiknya. Namun demikian, menjadi seorang ibu yang merupakan pahlawan bagi kemanusiaan adalah suatu pilihan dan kemungkinan, seperti halnya menjadi seorang ibu yang merupakan penjahat kemanusiaan.

Bentuk konkretnya penulis jelaskan demikian. Seorang ibu yang mampu memberikan pengaruh dengan sangat baik kepada anak-anaknya, melalui metode pendidikan dan pengasuhan apa saja, memiliki keleluasaan yang meskipun terbatas untuk menjadikan anak-anaknya seperti Adolf Hitler, Mahatma Gandhi, atau seperti Dadang bin Asep yang berjualan gado-gado di komplek perumahan. Apabila berkenan untuk belajar dari peristiwa masa lalu, tentunya akan dapat menilai seberapa besar pengaruh yang diberikan Adolf Hitler dan Mahatma Gandhi bagi kemanusiaan. Pun jangan melupakan karakter fiktif Dadang bin Asep yang berjualan gado-gado di komplek perumahan. Barangkali memang tidak ada media yang mengabarkan ke seluruh penjuru dunia yang lantas mengabadikan namanya dalam sejarah kemanusiaan, tetapi dalam contoh ini, Dadang sang penjual gado-gado mampu melahirkan kesadaran dan memberikan teladan luar biasa bagi kemanusiaan.

Putra Pak Asep tersebut, ketika berkeliling menawarkan dagangannya, selalu memungut sampah yang terlihat oleh pandangannya kemudian mengantarkannya ke tempat sampah. Awalnya tindakan tersebut terlihat biasa saja. Namun kelamaan, anak-anak komplek yang masih kecil (dan jangan pernah lupa bahwa anak-anak adalah peniru paling ulung) menirukan kebiasaan yang terus dilakukan Dadang tersebut, sehingga muncullah satu generasi pecinta lingkungan. Karakter mengharukan yang dimiliki oleh generasi ini selanjutnya memberi inspirasi berupa teguran visual dan kesadaran pada generasi lainnya untuk kembali peduli pada lingkungan. Sebenarnya Dadang tidak hanya berkeliling di satu komplek, tetapi juga di komplek-komplek pemukiman lainnya. Penjual gado-gado yang dulunya selalu diajari oleh ibunya untuk cinta lingkungan ini, akhirnya menularkan watak positif ke komunitas luas, karena seperti halnya keburukan, kebaikan pun mudah menular. (Dan) budaya bernilai positif tersebut ternyata berdasar pada nilai luhur yang ditanamkan oleh seorang ibu pada anaknya. Bukankah luar biasa?

Tentu saja tidak setiap ibu dan istri punya dedikasi yang baik untuk menjadi pahlawan dan memfasilitasi suami serta anaknya untuk menjadi pahlawan. Namun demikian, kelompok yang diceritakan oleh penulis eksis di komunitas. Jika pernikahan dihapuskan, apakah tidak lantas memberangus perjuangan luhur yang dilakukan oleh sebagian (barangkali besar) komunitas wanita di dunia tersebut?

Itu baru satu.

Selanjutnya, meskipun berpendapat bahwa abolisi pernikahan dapat menjadi suatu belenggu bagi perjuangan kaum wanita dalam melakukan aktualisasi diri, penulis juga memiliki pendapat yang barangkali berupa paradoks terhadap pandangan pertama tersebut. Bahwa di masyarakat tengah terjadi pernikahan-pernikahan yang tidak hanya menjajah kemerdekaan kaum wanita untuk melakukan aktualisasi diri, tetapi juga kemerdekaan kaum pria.

Pernikahan merupakan suatu prosesi penyatuan yang sakral antara seorang pria dan seorang wanita (secara konvensional penulis sebutkan demikian, meski telah terdapat pernikahan yang menyatukan dua orang dari jenis kelamin yang sama ke dalam satu keluarga). Sakral karena melibatkan proses religius, sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan yang dianut oleh yang menjalani prosesinya, sehingga tidak hanya melibatkan hubungan antarmanusia, tetapi juga hubungan antara manusia dan Tuhannya. Melalui proses pernikahan tersebut, lahir sebuah keluarga baru di komunitas yang selanjutnya akan menjalankan berbagai peran dan fungsinya di masyarakat. Dengan demikian, sebenarnya dan senyatanya pernikahan mengemban suatu amanah bagi masyarakat, untuk terlibat dalam suatu proses yang menjadikan komunitas berprogres ke arah yang lebih baik.

Permasalahannya ialah, banyak sekali pernikahan telah terlaksana di masyarakat yang melupakan amanah tersebut. Pernikahan seolah mempersempit fungsi sebagai suatu bentuk pelegalan dan penghalalan semata hubungan antara dua insan yang terlibat dalam ikatan emosional yang disebut dengan cinta (dan pada kenyataannya, bentuk emosi ini memiliki karakter mengikat, jika menolak untuk disebut sebagai membelenggu), tanpa mengingat fungsi dan perannya yang lain bagi masyarakat. Sebagian keputusan untuk menikah jarang melibatkan pertimbangan kesamaan visi dan misi antara kedua insan yang akan menjalaninya, jarang pula melibatkan pertimbangan (apabila diperkenankan menggunakan istilah yang sering disebutkan oleh Danang Tejo Pamungkas) chemistry antara karakter kedua insan yang menjalaninya. Oleh sebab tersebut, pernikahan tidak selalu menjadi lingkungan yang memfasilitasi perkembangan, tetapi dapat juga menjadi lingkungan yang mematikan perkembangan insan-insan yang menjalani pernikahan serta masyarakat yang disusun oleh keluarga baru yang terselenggara melalui prosesi tersebut.

Seperti halnya pohon pisang yang hanya akan tumbuh dan menghasilkan dengan baik di lingkungan tropis, manusia tertentu juga hanya akan tumbuh dan menghasilkan dengan baik di lingkungan tertentu. Seorang wanita penggagas kegiatan sosial terhadap masyarakat kelas menengah ke bawah tentu tidak akan mampu bergerak dengan leluasa apabila bersuamikan seorang pria yang tidak memiliki kepedulian terhadap penghapusan kesenjangan ekonomi di masyarakat. Seorang pria penggagas kehidupan politik dan pemerintahan yang adil dan sehat tentu tidak akan mampu bergerak dengan leluasa (atau bahkan perlahan-lahan terkikis idealismenya) apabila beristrikan wanita curang yang mengutamakan kesenangan pribadi di atas segala-galanya. Namun, bagaimana apabila wanita penggagas kegiatan sosial dan pria yang tidak memiliki kepedulian terhadap permasalahan ekonomi di masyarakat tersebut saling mencintai satu sama lain? Bagaimana apabila pasangan yang kedua juga saling mencintai satu sama lain? Realitasnya di masyarakat, mereka menikah kemudian saling menjajah satu sama lain, dan mematikan keleluasaan perkembangan masing-masing.

Cinta mengalahkan segalanya. (Dan) hal yang buruk dalam kisah ini adalah Cinta di sini membawa pada neraka dunia. *lebai*

Tentu saja tidak setiap pernikahan digagas oleh insan-insan visioner seperti yang penulis gambarkan di atas. Terdapat pula pernikahan yang dijalani oleh pasangan-pasangan yang ingin memadu cinta, hidup berbahagia, dan meneruskan keturunan saja. Penulis tidak akan teriritasi oleh pernikahan yang terakhir disebutkan apabila manusia yang terlibat di dalamnya secara pribadi memang hanya ingin memadu cinta, hidup berbahagia, dan meneruskan keturunan saja dalam hidupnya. Namun, ketika yang turut terlibat adalah manusia yang secara pribadi ingin meneruskan ambisi sejak masa lajang untuk memberi lingkungan yang fasilitatif untuk pertumbuhan masyarakat, penulis menjadi sangat teriritasi. Terlebih lagi, apabila penulis menjadi tempat melacur (melacur adalah abreviasi yang dipopulerkan oleh dr. Carla R. Machira, Sp.KJ untuk frase “melakukan curhat”) insan-tak-lagi-lajang yang tersiksa dalam kehidupan barunya karena tidak berpasangan dengan insan lain yang sevisi dan semisi.

Sekali lagi, tidak setiap pernikahan yang berdasar cinta semata berlanjut pada kisah tragis penjajahan. Sehingga pendapat penulis tidak cocok untuk digeneralisasi ke seluruh komunitas. Namun demikian, kisah tragis dan penjajahan dalam pernikahan tersebut eksis di sebagian komunitas. (Dan) hal tersebut adalah suatu permasalahan serius. *lebai lagi*

Terdapat pula sebagian orang di masyarakat yang memandang perjodohan sebagai bentuk penjajahan terkait pernikahan. Manusia-manusia yang akan menikah dijajah oleh pihak lain yang merasa ikut bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka. Namun demikian, penulis mengenal bentuk perjodohan yang lain, yang populer di kalangan tidak luas yang gemar disambangi oleh penulis. Dalam prosesi pranikah yang tidak melibatkan perkenalan sebelumnya antara dua insan yang hendak menikah tersebut, persamaan visi serta misi serta chemistry antara karakter kedua orang yang akan menikah dijadikan pertimbangan utama. Selanjutnya, hal yang tidak pernah dilupakan juga adalah, kerelaan atau ketidakrelaan kedua belah pihak untuk berlanjut pada prosesi pernikahan senantiasa dihiraukan.

Dalam pandangan penulis, perjodohan seperti di atas lebih memiliki sedikit peluang untuk terjadinya penjajahan apabila dibandingkan dengan pernikahan atas dasar cinta semata, terlebih lagi bentuk perjodohan di masyarakat feodal dan tradisional yang tidak jarang akan membuat seseorang mengeluh, “Duh Ayah Ibu, ini bukan perkara punya suami dokter, pejabat, insinyur, pengacara, atau bahkan pemain bola. Ini adalah tentang lingkungan seperti apa yang bisa saya berikan untuk dia, lingkungan seperti apa yang bisa dia berikan untuk saya, dan lingkungan seperti apa yang bisa kami berikan berdua untuk masyarakat.”

Tulisan ini, sekali lagi, hanyalah pengejewantahan opini pribadi (dan barangkali kelompok), tetapi bukan opini keseluruhan publik. Catatan ini ingin mengabarkan tentang gejala umum yang dipersepsi oleh sebagian masyarakat. (Dan) tulisan ini bukan tentang gerakan feminisme. Hahahahaha... Terima kasih sudah membaca tulisan panjang ini, harus bermanfaat! =D




Elisa Dian Pramesti

Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Umum Fakultas Kedokteran UGM/ RSUP dr. Sardjito Yogjakarta


12 komentar:

luluk mengatakan...

Pos-feminisme resah akan hegemoni kaum feminis. Ketika ia menyebutkan gerakan kelombang ketiganya, third-wave feminism, deklarasi antifeminisme disematkan untuk mengkretik feminisme yang melampui batas. Di kubu feminisme sendiri, reaksi yang berkembang adalah stigmatisasi kaum pos-feminisme sebagai gerakan neokonservatisme. Feminisme sebuah proyek yang belum selesai. Pos-feminisme hanya akan mengembalikan perempuan dalam objek hisapan budaya yang selalu tertindas.
Kalau melihat isu, pernikahan ini, saya melihat bacaan yang menarik yang mencoba mengkomparasikan antara pandangan feminisme barat dengan embrio feminisme a la Indonesia-Kartini. Saya rasa gagasan Kartini inilah yang sudah memuat inspirasi, beliau mengkirtik patriarkis, tetapi bukan juga feminisme absolut. Persis seperti pos-feminisme yang mencoba mendudukan reproduksi hak dan pendidikan bagi perempuan. Tidak sampai mendistorsi kedudukan perempuan hingga menjadi penguasa.
Jadi, embrio pemikiran kontemporer sudah ada dalam gagasan tokoh Indonesia zaman dulu, yang kini menjadi kegelisahan internasional. Ternyata pos-feminisme yang memiliki kedekatan teoritis dengan poskolonial, pos-strukturalis, dan posmodern itu -kata Sarah Gamble dalam The Routledge Companion to Feminism and Postfeminism Routledge Companions, telah menjadi kegelisahan nenek moyang kita dulu.

said mengatakan...

Gerkan feminisme selalu dimaknai dengan gerakan emansipasi wanita dan itu merupakan salah satu persepsi publik paling popular, issue emansipasi perempuan adalah perjuangan kaum perempuan demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Persepsi semacam ini cukup rentan eksploitasi dan pandangan liberalitas perempuan yang cenderung kebablasan.

makna emansipasi perempuan sebenarnya bukan demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Sebab apabila hak perempuan benar-benar persis disamakan dengan hak pria, maka hal itu sebenarnya justru sangat merugikan pihak perempuan sendiri.
. Sebab secara faktual aksiomatik, kondisi masing-masing jenis kelamin dengan latar belakang biologis kodrati yang tidak sama. Sehingga hak dan kewajibannyapun tidak harus sama walau ada yang sama. Meski dipaksakan dengan cara apapun, maka secara kodrati kaum pria tidak mungkin dapat melakukan sesuatu yang menyamai perilaku kodrati perempuan, seperti menstruasi, pregnasi, laktasi (datang bulan, mengandung (plus melahirkan), menyusui). Allah memang menciptakan sifat-sifat biologis kodrati pria beda dengan perempuan. Bentuk alat kelamin pria juga diciptakan Allah, berbeda dari perempuan, justru demi fungsi reproduksional agar makhluk manusia tidak punah.

Anonim mengatakan...

ngomong uopo..??


-chx-

Ed Khan mengatakan...

Elisa....ehm
luar biasa, semoga sebuah tulisan tentang "pernikahan" ini dapat menjadi pemantik bagi kawan-kawan embun pagi untuk kembali mulai meramaikan blog ini, yang telah sepi ditinggalkan banyak penghuninya untuk sekedar hijrah menjadi jama'ah fesbuqiyah...

tulisan yang bagus, amat sangat patut diapresiasi, di tengah kosongnya kesadaran kritis mahasiswa kedokteran terhadap isu-isu gender, feminisme, etnisitas, rasialisme, dan lainnya.

saya pribadi bukanlah orang yang merasa perlu membaca serius dan kemudian larut dalam diskursus feminisme-postfeminisme. Dulu saya pernah sedikit mempelajarinya dan menuliskannya di satu media (koran) lokal tentang gender, tapi sekarang kok agaknya saya tidak terlalu menganggap feminisme sebagai suatu yang penting dalam konstelasi yang lebih besar, diskursus kemanusiaan.

tentu salah satunya saya terpengaruh Cak Nun yang suatu waktu menyatakan generalis-universalis kala membincangkan mengenai gender. namun, terlepas dari itu, dalam istilah saya, agaknya akan tepat ketika menjadikan feminisme sebatas "kapasitas definitifnya" saja, pun demikian juga dengan post-feminisme. Jangan lupa, bahwa pereumpuan memang memiliki fasilitas yang berbeda dari laki-laki dalam hal reproduksi, memiliki "kapasitas"/kekuatan fisik dan psikis yang berbeda dari laki-laki. "Berbeda" di sini bukanlah selalu berarti "rendah", melainkan relatif.

Kalau sudah begitu, hyper-feminis dan hyper-post-feminist adalah sebuah ketersesatan pikir yang mesti ditinjau kembali, dan kalau perlu, ditolak.

sekali lagi, mbak elisa selamat "bergabung", berbagi ilmu, kegelisahan, dengan kami di embun pagi...kapan2 kalau ada waktu bolehlah kami bertandang untuk berguru sama mbak elisa ya...
trims, suwun, makasih,...

Salam,


Edi Subkhan, tukang kebun di Jakarta...

Elisa mengatakan...

Haduh, terima kasih banyak buat apresiasi yang diberikan ke tulisan saya ini. Saya jadi terharu. Hehe..

Sebenarnya, gagasan utama dalam tulisan saya ini adalah pernikahan, bukan emansipasi wanita, feminisme, atau posfeminisme. Opini yang saya sampaikan ini mengkritik generalisasi tidak hanya terhadap generalisasi feminisme saja.

Namun demikian, bagi saya, emansipasi antara wanita dan pria bukanlah tentang persamaan hak dan kewajiban, melainkan kesetaraan. Kesetaraan tidak mesti sama.

@Mas Luluk: Memang demikian, saya sepakat bahwa kegelisahan ini tidak hanya milik generasi zaman ini saja. Dan saya tidak pernah berada di kubu yang ekstrem.

@Mas Said: Kita sependapat, Mas. Bukan persamaan. =D

@Mas Edi: Ayolah, Mas. Sya sebenarnya tidak menulis sebagai seorang mahasiswa kedokteran. Keterangan tentang saya terpaksa demikian, karena saya tidak tahu mesti ditulis bagaimana. Sebenarnya ini kegelisahan saya sebagai seorang manusia dan seorang wanita (walaupun saya mahasiswa kedokteran juga). Saya sepakat bahwa gagasan-gagasan hiper tersebut berbahaya. Saya juga berharap, apabila ada yang keliru dalam tulisan saya ini, supaya diberi koreksi. Hehe. Dan satu lagi, saya juga belum belajar tentang faminisme dan posfeminisme. Gagasan utama saya adalah pernikahan, dan impact-nya pada kemanusiaan, Mas. Dan melalui tulisan tersebut, saya mengkritik generalisasi.. =D

@Mas Eko: Ora ana sing ngomong, kabeh do nulis. Ngopo?? =P

Sekali lagi, terima kasih untuk apresiasi dan sambutan hangatnya, ya. Saya pun berbahagia dalam kegelisahan, telah diperkenankan menjadi bagian dari komunitas ini. ^^

Anonim mengatakan...

Modiar kowe, rek...rek...
Entuk musuh ki saiki. Ayu, pinter, kritis, bijaksana, dan mengaku berbicara mengenai hal yang jauh beberapa langkah kajian ilmunya dibanding kita2 mengenai hal ini: pernikahan. Sing arep nyedaki harus siap2 diajak berdebat dulu...

Suatu hari, Bu Nurriyah Abdurrahman Wahid bertanya pada ibu2 di pelosok Trenggalek "Bu..bu.. Nopo wonten kasus KDRT ting mriki?". Di jawab serentak oleh ibu2 tersebut "Mboten wonten, Bu Nyai...". Kemudian sang mantan Ibu Negara ini melanjutkan "Alhamdulillah... Lajeng nopo wonten bojo jaler ingkang moro tangan kaliyan bojo estri nipun?". Ibu2 dusun lantas menjawab dengan serempak pula "Kathah...kathah...".

Kemudian bandingkan dialog tersebut dengan kasus perceraian pesohor televisi di negeri ini yang menjadi "sandang-pangane" infotainment dan si objek berita itu sendiri.

Saya pikir, dua gambaran ini, sedikit banyak, memberi gambaran bahwa sebetulnya yang kenal dan yang mempelajari feminisme pun tidak kalah sembrono dengan ibu desa yang, sungguh berani sumpah, mungkin belum pernah mendengar apa lagi belajar tentang feminisme.

Memang, tidak jaminan bahwa selebritis yg memperlakukan pernikahannya sebagai lembaga atau trik mencari nafkah itu kenal feminisme. Tapi setidaknya mereka dianggap berpikiran lebih "maju dan modern". Pun pula, tidak harus selalu menyalahkan pihak yg memilih bercerai. Perceraian pun, sebetulnya tidak jelek-jelek amat. Wong kalo jelek, kenapa tetep dibolehkan menjadi emergency exit juga?. Namun sungguh, saya kemukakan ini denga benang merah terhadap analisis mbak Elisa dan comment temen2 bahwa, sebetulnya masih banyak dialektika yg belum tersentuh ilmu pengetahuan modern, dalam hal ini teori feminisme. Walau dia sudah berkembang sejak beberapa abad silam, bidang ini belum bisa menemukan format yg pas dan berterima oleh dua pihak : laki2 dan perempuan. Mungkin ada hal yg terlalu emotif dilupakan oleh pengembang feminisme : bagaimana jika kita tidak bicara soal lelaki saja atau soal perempuan saja? Bagaimana jika kita bicara tentang keduanya saja : tentang lelaki dan perempuan, tentang kemanusiaan? Tak bisalah tentu saja perempuan tanpa lelaki, gatal...dan siapa nanti yang mbetulin tali jemuran? Tak mungkin juga lelaki tanpa perempuan, arep dadi debog gedang thok po piye?


Kalo sudah Tina Talisa, tak perlu yg lain.
Yog.

Elisa mengatakan...

Kang Yog,

Sanjungan yang terlalu memabukkan! Argh! =D

Kalau boleh jujur, komentar Kang Yog ini justru membuka topik baru, yang belum masuk ke jangkauan pikir saya ketika saya membuat tulisan ini. Setidaknya, sangat membantu saya untuk sampai kepada hal yang mendasar dari permasalahan yang tengah saya sajikan melalui tulisan ini. Hehe.

Bagaimana jika kita tidak berbicara tentang lelaki saja? Bagaimana jika kita tidak berbicara tentang perempuan saja? Bagaimana jika berbicara tentang keduanya saja: lelaki dan perempuan, tentang kemanusiaan?

Saya sangat suka!! =D

Yuuuuukk! Mariiiyyy..

luluk mengatakan...

Ya, kalau dilihat dari sisi perbedaannya saja itu hanya "ada pada dirinya sendiri" tanpa maksud, tanpa tujuan, dan tanpa orientasi sama sekali. Sebuah fenomen "ada" jika diamati. Diluar pengamatan, sesuatu itu tak bisa disebut "ada". Itulah ontologi empirisme yang ditularkan dari Hobbes, Locke, Berkeley hingga Hume.
Ontologi perempuan dan laki-laki itu ada tak lepas dari proses pengamatan. Selain dari sisi perbedaan fisik, manusia juga memiliki latar sejarah yang jika ditarik garis lurus akan sampai pada adam-hawa (dalam konteks agama) dan "kera" dalam terminologi biologi saintifik klasik.
Tapi sudahlah, yang terpenting adalah emansipasi subtansial. Yakni proyek kesejajaran yang tak hanya nampak dilihat secara nyata yang kemudian membawa paksaan-paksaan pada kaum tertentu. Yang diperlukan adalah refleksi kritis atas proyek emansipasi yang sudah berjalan larut ini

Anonim mengatakan...

seru dan menarik perbincangan kali ini...
wah, selamat datang ellisa...ternyata sudah lama gabung di blog ini ya...kebetulan akhir-akhir ini saya sedang 'lupa' dengan blog ini.jadi saya jarang (kalo tidk dikatakan tidak pernah) untuk sekedar mampir, dan ikut diskusi dalam blig ini...sekali lagi selamat bergabung kawan...
kali ini saya akan berkomentar mengenai feminis dan postfeminis terlebih dahulu sebelum bicara mengenai penjajahan dalam pernikahan...begini:
perempuan dan laki2 memang beda dalam segala bentuk fisik pun berbeda, bukan hanya kelaminnya saja. bahkan dalam hal persepsi tentang suatu hal berbeda, dan bentuk saraf serta otak pun ada perbedaan (barangkali anda lebih tahu mengenai hal ini). begitu pula dengan perannya dalam masyarakat.hanya saja yang menjadi permasalahan para feminis adalah, dari perbedaan itu, dijadikan alasan untuk menindas dan (kalo bahasa anada)menjajah pihak yang lemah(bukan hanya permpuan saja sebenarnya yang menjadi bahasan kaum feminis, tetapi juga mengenai ketertindasan kaum laki2), sehingga terjadi diskriminasi, subprdinasi, dsb.
seiring perkembangan gerakan2 feminisme, banyak hal2 yang dianggap sudah tidak sesuai, melenceng, akodrati, dsb dari nilai2 perjuangan awal para feminis. maka muncullah gerakan post-feminisme. sebenarnya banyak sekali hal yang mendasari lahirnya gerakan post-feminisme ini. salah satunya disinyalir bahwa besarnya pertumbuhan penduduk di negara2 maju yang hanya 0%, dan hal ini berarti bahwa angka kelahiran dan kematian seimbang. dengan bgitu mereka merasa terancam dengan akan masuknya penduduk dari negara2 berkembang yang akan menggantikan posisi mereka. sehingga eksistensi mereka terancam. maka lahirnya gerakan post-feminisme ini dianggap sebagai pengembalian perempuan ke ranah domestik, punya anak, dsb. bahkan ada salah satu negara di Eropa yang memberikan reward pada perembpuan yang bersedia untuk hamil dan melahirkan.so what???

kemudian yang kedua adalah mengenai 'penjajahan dalam pernikahan'
sebenarnya, adanya penjajahan terutama dalam pernikahan, adalah adanya salah satu pihak yang menganggap pihak lain lebih lemah, dan pihak yang dianggap lebih lemah itu menerima dan ikut merasakan anggapan itu, sehingga terjadilah penjajahan. penjajahan tidak akan terjadi kalau pihak terjajah tidak mau dan dapat bersikap tegas menolak penjajahan. selain itu pihak terjjajah, harus punya bergaining position dihadapan pihak penjajah, sehingga akan seimbang.(itu teori. prakteknya????bisa lah diaplikasikan dan diusahakan...)jadi menjadi terjajah, atau penjajah, atau keduanya, atau bahkan tidak menjadi keduanya adalah pilihan kita sendiri...so pilih yang mana???
that's all

salam,
elin

Anonim mengatakan...

jadi tertarik untuk ikut berkomentar...

dalam feminisme terdapat begitu banyak aliran, yang seringkali tidak bersepakat satu sama lain. ya, seperti yg luluk bilang, feminisme memang merupakan sebuah "proyek yang belum selesai", kalau tidak mau dikatakan tidak akan pernah selesai. namun, menurut saya, ragam aliran dalam feminisme itu bukan berarti saling melemahkan satu sama lain, namun justru memperkaya kita dalam usaha melihat persoalan yang dihadapi perempuan.

kalau boleh cerita si, setau saya kata kunci penting dari feminisme di antaranya adalah adanya dominasi atas perempuan. jawaban dari pertanyaan dari mana dominasi itu muncul lah yang menyebabkan lahirnya beragam aliran dalam feminisme. lebih lengkap, coba baca bukunya feminist thoughtnya rosemarie putnam tong. lengkap... ^_^

oya, yang juga seringkali membuat perempuan dipandang inferior itu adalah adanya pembedaan peran perempuan dan laki-laki, dan pereduksian perempuan menjadi sebatas ibu yang melahirkan dan "mendidik" anak (ayolah, masak kalian masih berpikir "mendidik" anak itu HANYA tugas perempuan?)

oke, perempuan memang bisa melahirkan. namun "mendefinisikan" perempuan dari kemampuan biologisnya itu sangat tidak adil. bagaimana bila dunia terbalik, dan laki-laki lah yang direduksi hanya sebatas kemampuan biologisnya, sebagai penghasil sperma? bukankah itu menafikan sisi lain dari si lelaki? begitu juga perempuan. oke, kami perempuan, kami bisa melahirkan. everybody knows that. tapi, di luar itu, cobalah lihat kami (baca:perempuan) sebagai manusia seutuhnya, tidak hanya "betina" yg bisa bereproduksi..

pun demikian tentang pernikahan. masak si, para perempuan yg ada di sini, kalian mau dinikahi seseorang hanya dengan alasan, "biar bisa meneruskan keturunan."?? helloooo... kalo kayak gitu, trus apa bedanya kita sama ayam betina yg dipiara biar bisa menghasilkan telur???

Anonim mengatakan...

where the hell was d people si??

kok nda da yg nulis lagi..
T_T

Skydrugz mengatakan...

izin copas :D utk dishare di fb :D