Inilah mimpiku kawan. Kita abaikan saja siapa presiden kita dan apa partai kita dan tentang mencontreng apa dan siapa. Saya bermimpi kita semua bekerja, belajar, dan berkumpul tanpa harus memperdulikan hal-hal yang memuakan itu kawan. Saya bermimpi, kita berhenti bertanya siapa dan kelompok apa yang mampu menolong kita. Saya bermimpi kita semua menyadari bahwa penentu kehidupan kita adalah kita sendiri. Saya bermimpi kita semua menyadari bahwa kekurangan dan kelebihan adalah kodrat kehidupan yang harus kita perjuangan sendiri-sendiri. Berhentilah kawan mencurigai 'orang asing'. Berhentilah kawan mengatakan 'kami' atau "mereka". Kalau perlu kita hapus saja kata "kami" dalam pembukaan UUD kita. Itulah mimpiku kawan.
Berhentilah menggerutu. "Menyalahkan mereka' dan berhentilah mengatakan"kami". Saya bermimpi setiap kesalahan dan kekurangan merupakan bagian dari kesalahan dan kekurangan yang disebabkan oleh kita. Tidak disebabkan oleh 'mereka' atau 'dia'. Saya bermimpi kita semua merhargai kegagalan. Menghargai kesalahan. Menghargai perbedaan. Saya bermimpi kita tersenyum ketika melihat kesalahan kita, melihat kedepan dengan kaca mata kita. Bukan dengan harapan-harapan kosong yang sering dijanjikan kepada kita.
Bangunlah kawan untuk bergerak, mencari, belajar dan bangkit dari kerapuhan ini. Selalu waspada, saling mengingatkan, dan bekerja sama. Sadari kawan, bahwa pemimpin kita adalah kita sendiri. Pemimpin saya adalah saya sendiri. Pemimpin anda adalah anda sendiri.
Itulah kawan mimpi-mimpiku, salam anarkis.
Ttd
Giyanto
