online degree programs
Tampilkan postingan dengan label kotemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kotemplasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juli 19, 2008

‘Makan Itu Seni’

‘Makan Itu Seni’, kira-kira begitu bunyi sebuah pernyataan seorang artis di sebuah koran ibu kota beberapa hari yang lalu. Artis itu menceritakan hobinya mencari makanan yang lezat. Saya bayangkan sambil berkeringat saking semangatnya dia menceritakan hobinya itu. Saya juga membayangkan dia juga menyebutkan seluruh nama-nama restoran mewah di Jakarta, bandung, semarang, jogja, manado, medan, apalagi bali. Pokoknya semua nama-nama beken restoran hampir di seluruh Indonesia. Bahkan mungkin juga dia ceritakan lezatnya makan pizza di italia, atau makan kacang godok di bawah Eiffel, atau dia ngopi di sampil sungai Nil di Mesir sana. Wah, pokoknya wartawan yang mewawancarainya pastiah wartawan yang sangat sabar. Sebab, untuk menyebutkan nama-nama itu semua ia mebutuhkan hampir 24 jam kurang sepuluh menit buat sesekali ke belakang. Belum lagi dia juga mengeluarkan daftar nama-nama warung tradisonal yang rencananya akan dia kunjungi. Yah, biar disebut merakyat oleh fans-nya yang rata-rata orang miskin dan bodoh itu. Lalu, wartawan-wartawan infotainment baik cetak maupun elektronik segera dihubungi oleh pihak manajemen untuk mengikuti acara petualangan hobi itu. Yah, barangkali saya membayangkan berlebihan tetapi terus terangs hanya satu hal: saya tersinggung!

Sebagai pengangguran yang mempunyai tanggungan satu istri dan dua anak, saya setiap hari harus sedikit demi sedikit mengeluarkan hasil pesangon phk dari ‘perusahaan’ kue bolu yang gulung tikar kemarin. Uang itu mau habis. Istri saya harus pintar-pintar betul memilih sembako. Beras harus yang kelas paling murah saja. Lauk saban pagi tempe saja. Sorenya juga tempe lagi. Malemnya kalau ada sisa saja. Besok paginya lagi, lauk kami baru; tempe diangetin. Aduh, apalagi kalau bapak kontrakan tiba-tiba datang menagih bulanan. Dalam situasi yang demikian biasanya kami terpaksa berpuasa. Yah, itung-itung semacam pengampunan dosa begitu. Sembahyang kami kadang ya bolong-bolong. Sebab perut yang keroncongan tak bisa diajak kompromi buat konsentrasi solat. Ampun, Gusti.

Yah, begitulah keadaan saya. Pokoknya, kalau saya ceritakan detail-detail bagaimana kami makan anda dijamin ndak doyan makan. Belum lagi keadaan kontrakan saya itu. Hanya sebuah kamar berukuran 2x2 meter dengan wc atau tepatnya jamban umum yang kalau disiram air ‘itu’nya ndak mau masuk-masuk. Coba anda bayangkan 101 orang dewasa belum lagi anak-anak kecil hanya dengan satu jamban yang sudah bertahun-tahun tidak pernah disedot. Hi hi….

Ah, begitulah yang kami lakukan sehari-hari. Sebenarnya bukan ini yang saya dambakan dulu ketika datang dari desa. Saya pengennya ya tinggal di apartemen-apartemen begitu. Makan di resto-resto. Mobil banyak kalau bisa lebih banyak mobil daripada banyak anak. Tapi, kenyataan memang pahit saudara-saudara. Kadang kalau tidak ada anak dan istri rasanya saya ingin menangis saja. Ingin menjerit sekeras-kerasnya meluapkan apa yang mendongkol di hati ini. Tapi saya sadar di hadapan istri apalagi anak-anak saya harus mengendalikan emosi saya. Ah, tapi kadang tanpa saya sadari saat tertidur saya bermimpi saya bisa menjerit-jerit sepuas-puasnya sekeras-kerasnya. Ternyata, jeritan itu benar-benar keluar dengan nyata! Seisi rumah bangun, seluruh kampung geger bahkan konon jeritan saya itu sampai di istana-istana negar, gedung-gedung pemerintahan, wakil rakyat, perusahaan-perusahaan multinasional. Bahkan konon lagi orang-orang di kampung saya yang jauh di pedalaman banyumas jawa tengah itu juga mendengar jeritan itu. Itu saya tahu sebab emak saya langsung mengirimkam adikku yang ndak lulus sma itu untuk mengecek keadaanku. Seketika itu, kata adikku, emakku langsung menangis dan bersujud di dahapan gusti kang murbing dumadhi memohonkan kemudahan bagiku, bagi keluargaku. Yah, begitulah kalau keinginan untuk ingin pulang seperti tak tertahankan. Tapi bagaimana lagi saya sudah terlanjur malu.

Tapi, begitulah. Ternyata yang bener-bener jeritan yang nyampe itu ya hanya yang ke emak di desa itu. Selebihnya seperti jeritan-jeritan aneh yang langsung menjadi pemberitaan utama di koran-koran esok paginya itu yang masuk ke gedung-gedung tadi ternyata ndak benar-benar nyampe. Hanya menabrak-nabrak dinding. Selebihnya bisu.

Yah, begitulah saudara-saudara. Keadaan yang sebenarnya tidak ingin saya ceritakan pada siapa-siapa. Ini rahasia kita saja ya.

Lha, kok pagi itu pas saya sedang menunggu kereta ekonomi non ac yang nggak datang-datang itu habis seharian cari kerjaan, di koran yang tak bisa saya beli itu si artis bilang begitu itu. Makan itu seni! Makan itu seni! Tai, kata saya. Saya langsung tidak sadarkan diri. Saya langsung merebut koran itu. Saya robek-robek koran itu tanpa ampun. Saya marah. Saya tersinggung. Saya ndak peduli. Saya marah. Saya lari. Lari terus. Terus. Menabrak apa saja. Saya tidak peduli semuanya. Saya tidak peduli pada anak. Pada istri. Pada emak. Saya terus berlari. Saya meradang. Saya berteriak-teriak di tengah rel. Saya menantang bahkan angin bahkan presiden bahkan tuhan. Dan menyambarlah kereta itu….

Taufiq

Senin, Maret 31, 2008

Finding myself

Jujur, tak banyak yang dapat disampaikan di sini. Ini hanya bagian hidup yang perlu di isi. Seperti saat ini, mengisi apa yang perlu di isi dan biarkan yang lain kosong bila memang diharuskan kosong.

Judulnya seperti sebuah lagu di OST film The Punisher, "Finding Myself" yang dinyanyikan Smile Empty Soul. Kalau dibilang mencontek, mungkin. Sedangkal otak ini memahami bahasa inggris, suatu keajaiban dapat menemukan kata itu. Yang lebih masuk akal, terispirasi. Itu saja.

Suatu keajaiban pula seseorang yang belum mengenal dirinya tiba-tiba begitu paham akan diri lain. Inspirasi tentu saja bagian tak terpisahkan dari pencarian siapa sebenarnya diri. Menemukan apa yang sebenarnya tak perlu dicari.

Setiap diri mempunyai komponen terorganisir yang dapat melengkapi diri untuk memahami dirinya. Yang melekat justru yang dicari, yang harus ditemukan. Bagaimana menemukan apa arti sebenarnya diri, hanya diri itulah yang dapat menjawabnya.

Kalau diri sudah mengenal dirinya maka dia dapat mengenal diri yang lain, yang memang harus dicari. Bagaimana diri mampu mengenal diri yang lain tanpa memahami dirinya. Sebuah fatamorgana. Kalau dibilang keajaiban, keajaiban macam apa. mengenal diri adalah bagaimana memahami siapa diri?Bagaimana diri?Memahami ruh, akal,hati dan nafsu kemudian memahami diri yang lain.

Agaknya membingungkan. Bagaimana kita tahu, "diri " tidak dapat berbicara? Sedangkan ia begitu lancar bercerita. Ia berbicara dengan ke-khas-annya. ia menggumam, menangis, tertawa dan terlibat keburaman yang dalam atau kesunyian pada lembahnya atau keriangan yang mengalir tanpa henti. Tak ada rasanya bila ia hanya diam, rigid, tak bergerak, tak memahami dirinya sendiri. Menemukannya dalam diri sendiri. Rasakan cintanya, amarahnya, bahkan kasih sayangnya pada diri lain.

menemukan apa sebenarnya yang telah ada. hanya mengukir cinta pada "diri" dan temukan keagungan Sang Pengkodrat diri. Yang mengatur diri apa pada siapa ia. Yang memihak pada diri yang selalu lemah. Yang mencintai diri ketika diri mengenal dirinya. Yang menakdirkan diri menjadi diri sepenuhnya. Yang menggapai diri dari segala pejuru. Yang membuat diri ada bersama diri lain dan Yang membuat diri menemukan dirinya hingga memahami diri lain.

Sebuah proses yang tak pernah berhenti sampai diri dianggap lelah dan tak mungkin lagi memahami diri atau bahkan terlalu menjadi "diri". Sebuah proses kehidupan karena diri dalam keadaan mengharap, merangkak, menerjang, ingin selalu menemukan siapa dirinya.
Inspirasi merupakan awal diri untuk menemukan siapa dirinya. dan memahami arti dirinya, menggapai apa yang ada dalam dirinya sampai diri menemukan diriNya. Yang tak lain adalah "diri" itu sendiri.

A_leev

Kamis, Maret 06, 2008

PRINSIP*


Kita harus berhadapan dengan penyesalan. Menjadi dewasa berarti belajar menerima segala hal yang tidak dapat kita ubah, menghadapi penderitaan yang tidak putus, dan belajar mencintai hidup seperti adanya, bukan sebagaimana yang kita kehendaki”.

Barbara Sher

Saya sudah jenuh beragumen. Tapi tak apalah, ini demi sesuatu yang terlanjur saya komitmenkan. Tulisan ini agak filosofis terkait yang ada dalam perangkat pikiran saya, yang diantara sistem neuron-neuron saling terhubung sedemikian rupa sehingga membentuk pandangan-pandangan yang telah saya tulis ini. Pikiran-pikiran ini juga yang membuat saya dalam satu bulan ini tidak enak tidur dan juga tidak enak makan. Sampai-sampai proposal skripsi yang sudah saya ajukan belum saya urus.

Konon ada tiga hal yang tidak bisa dihindari manusia. Pertama pilihan, kedua prinsip dan yang terakhir perubahan. Masalah pilihan tidak akan saya bahas di tulisan ini karena Kang Edi sudah sering mendiskusikannya, terkait dengan eksistensi manusia itu sendiri. Karena manusia sebagai makhluk yang hidup, maka manusia tidak bisa mengihindar untuk tidak memilih.

Begitu juga masalah perubahan. Semenjak kita aktif dalam berbagai organisasi, saya kira temen-temen sering menggunakan kata perubahan sebagai alat yang paling efektif untuk melakukan gerakan. Tanpa memperhatikan apakah perubahan itu lebih baik ataupun lebih buruk dan kadang-kadang malah membunuh diri sendiri, sekali lagi, perubahan tidak dapat dihindari. Dan tiap pribadi pasti pernah dalam masa transisi, seperti yang sekarang dialami Kang Taufik, maka sangat jelas peran perubahan dalam hidup setiap manusia.

Yang terakhir, yaitu prinsip. Sudah hampir dua tahun ini saya mencari-cari apa itu sebenarnya prinsip. Prinsip, dari yang saya ketahui belakangan ialah sebuah hukum alam yang sudah ada sebelum kita ada. Artinya, dia diciptakan oleh Sang Khalik agar kita tunduk pada prinsip-prinsip atau hukum-hukum yang telah diciptakan-Nya. Dan yang membuat saya gelisah saat ini ialah terkait masalah ini. Dari kecenderungan-kecenderungan perilaku manusia yang saya lihat, sebagian besar politisi, prinsip-prinsip itu mereka tentang.

Saya ingat apa yang pernah ditulis Cak Nun: Iblis dan Malaikat itu makhluk kepastian, sedangkan manusia adalah makhluk kemungkinan. Ini juga mirip dengan kata Mises, bahwa setelah para filsuf meninggalkan pencarian mereka akan hal yang absolut, para utopian meneruskannya. Jika seandainya sekarang masih ada manusia yang masih terkurung otaknya untuk mengejar-ngejar kepastian, ini berarti dia menentang kodratnya sendiri.

Begitulah cerita singkat seperti yang sering diungkapkan dalam berbagai filsafat, baik agama maupun ilmu pengetahuan. Dan sekarang, kita sering terkecoh oleh ilusi-ilusi yang selalu mengejar kepastian serta kesempurnaan. Salah satu email dari Bung Nad terkait pandangan epistemologis yang saya geluti sekarang ini. Dia mengatakan: “jika teori digagas tanpa kekeliruan logis, maka realitas hanya akan terjadi sesuai dengannya! Ini terdengar sulit diterima; tetapi begitu memang adanya”, tegasnya. Mendengar hal itu terasa agak aneh. Tapi akhirnya saya menyimpulkan bahwa itulah bentuk-bentuk prinsip sebenarnya. Jadi, prinsip ada sebelum kita ada.

Dari gambaran diatas, yang membuat saya marah adalah perilaku politisi-politisi yang sekarang lagi main parodi di panggun politik. Menurut saya, tindakan-tindakan mereka berlawanan dengan hukum-hukum alam. Dalam hal kegiatan ekonomi, blunder ini sering terjadi. Yang dikatakan Kang Edi saya sepakat---kalau dilihat dari kacamata niat baik. Akan tetapi niat baik saja tidak cukup, dari prinsip-prinsip atau hukum-hukum ekonomi yang sementara saya pelajari. Tindakan mereka ternyata merusak kegiatan ekologis ekonomi manusia. Hukum penawaran dan permintaan tidak dapat dibantah. Dia bekerja sesuai tindakan-tindakan manusia. Jadi kalau ada yang mengitervensi, berarti ada pihak yang dirugikan. Di sini, posisi saya pas berada melihat dari pihak tersebut: bapak saya. Dan saya yakin Bapak tidak mengetahui hal tersebut. Dia hanya kecewa dengan kondisi, dan saya tidak tahan melihat hal tersebut. Jadi kalau saya sekarang banyak menulis, ini terkait apa yang sudah bapak berikan secara pribadi kepada mental saya, yang ternyata sekarang sangat bermanfaat untuk saya pribadi.

Dari kecil, saya didik untuk bekerja. Kalau tidak bekerja, maka saya tidak mendapat uang saku untuk sekolah. Katanya, itu ialah keadilan untuk diri sendiri dan orang lain. Sudah sejak kecil prinsip-prinsip sederhana itu ditanamkan pada semua anaknya, termasuk saya. Tapi setelah saya besar, dan sekarang bisa menulis, prinsip-prinsip yang sederhana itu ternyata tidak dilakukan oleh orang-orang yang malah sering kita idolakan. Anehnya, kita malah menjadikan mereka ikon-ikon demokrasi yang sering kita dukung setiap ucapannya. Pengalaman saya ketika di Sumatera Barat, menurut penglihatan saya pribadi, di sana malah lebih demokratis. Ninik mamak (kepala suku), cerdik pandai (intelektual) dan alim ulama ialah elemen-elemen representasi konsep demokrasi yang sebenarnya sudah ada di budaya lokal. Parahnya, konsep itu telah “dirusak” oleh pemaksaan konsep-konsep yang mempunyai niat baik tetapi menentang “hukum” yang sudah ada di sana sejak lama.

Terkait yang sering saya kritik dan hujat saat ini adalah sistem yang telah terstruktur. Jadi kalau dulu orang memperjuangkan kebebasan dalam bentuk kemerdekaan. Saat ini saya melihat, sistem struktur itu menjadi sangat kropos dan rawan runtuh, sehingga keadilan tidak hanya menjauh tapi malah terancam.

Kalau Mas Yogas pernah menawarkan untuk menentang sistem, maka yang sekarang saya wacanakan adalah menentang sistem-sistem yang terstruktur. Dalam kata yang sederhana, sistem terstruktur itu adalah: “Negara dan elemen-elemennya yang sangat gemuk”. Kalau yang menjalankan tidak segera membenahi diri ataupun berefleksi, maka dalam waktu dekat “bencana itu akan terjadi”. Saya tidak dapat membayangkan, korban itu akan seberapa besar? Tapi tak apalah, bukankah perubahan itu suatu yang tidak dapat dihindari? Agar manusia selalu mengingat.

Barangkali kata-kata Bharbara Sher benar adanya...

*Giyanto

Minggu, Februari 24, 2008

Sudah Pegang Kunci, Tapi Ternyata Tertukar*

Orang muda menghormati yang lebih tua, orang tua menyayangi yang lebih muda

Adagium yang akrab terdengar, mengingat “takdir” geografis yang senantiasa menuntut alam bawah sadar kita sebagai bangsa Indonesia untuk menerapkannya dalam setiap sudut kehidupan. Penerapan adagium tersebut terlihat dan sangat terasa mengiringi nuansa kehidupan bangsa Indonesia pada umumnya, dan civitas akademika Unnes pada khususnya. Sedemikian indah ungkapan tersebut, tetapi simpang empat Unnes tak pernah tidak semrawut pada jam-jam peak, suara knalpot yang mengekor aliran musik Slipknot, pun kuliah yang tidak bisa serutin kartun Naruto (secara periodik seminggu sekali) karena alasan kesibukan staf pengajar. Lalu apakah ada yang salah dengan ungkapan tersebut?
Semua ilmu bersifat netral, dan praksis manusialah yang memberikannya kesan baik ataupun buruk. Merujuk pada kalimat di atas, adagium “Orang muda menghormati yang lebih tua, orang tua menyayangi yang lebih muda” tentu tidak ada yang salah di dalamnya, dan justru lebih condong ke arah baik. Bersoal-jawab mengenai fenomena tersebut, dimana kesenjangan antara das sein dengan das sollen, ada kemungkinan kekeliruan dalam penerapannya. Perlu diketahui bahwa sebagai tuntunan norma, dua kalimat tersebut adalah dwitunggal jika memang diinginkan untuk diterapkan dalam keseharian. Tetapi dalam kenyataannya, terdapat pemenggalan kalimat, dan celakanya masing-masing pihak (muda dan tua) memegang erat kalimat yang seharusnya menjadi pegangan pihak lainnya. Kalimat “orang muda menghormati yang lebih tua” yang seharusnya menjadi kunci bagi si muda justru dipegang oleh mereka yang tua, dan begitu sebaliknya. Demikian yang terjadi sehingga Si muda terlebih dahulu menuntut agar disayangi oleh Si tua, dan Si tua tak henti-hentinya mengingatkan keharusan dan pentingnya penghormatan kepadanya. Saling menuntut berlanjut saling menyalahkan tidak lagi terhindarkan, melupakan bahwa yang terjadi hamyalah “kunci” yang tertukar.

Kaitan logika, etika, dan estetika
Masih senada dengan fenomena ”kunci tertukar” di atas, kritik sebagai kontrol sosial pun bernasib sama. Sebagai bagian dari civitas akademika tentu tak asing lagi dengan prinsip ”Semua ilmu berawal dari logika, dan berakhir dengan seni melalui tingkatan logis (benar-salah), etis (pantas-tidak pantas), dan estetis (indah-tidak indah) yang berlaku secara hierarkis. Selayaknya sebuah keluarga dimana Orang Tua mendidik anak-anaknya, keluarga besar Indonesia (dan Unnes) juga mempunyai tujuan mengupayakan pendidikan bagi rakyat. Dalam mengupayakan proses pendidikan yang dilakukan, tak jarang Orang Tua melakukan kesalahan yang menuai protes dari Si anak. Sampai disitu semua berjalan sebagai fenomena yang wajar-wajar saja bukan?
Namun ada sesuatu yang tertangkap dan tergolong tidak wajar ketika melihat cara penyampaian kritik-sebagai bentuk protes-dan penyampaian tanggapan yang diberikan. Terkait dengan hierarki yang disebutkan sebelumnya, taraf logis menilai apa yang dilakukan Orang Tua dianggap salah, sehingga mendapatkan kritik. Seharusnya hal ini sudah masuk dalam ranah etis, yang mempertimbangkan bagaimana cara penyampaian kritik yang pantas dan tidak menentang etika agar selaras dengan prinsip hirarki logis-etis-estetis mengingat status civitas akademika yang disandang bersama. Jika hal itu bisa dilaksanakan dengan penuh kesadaran, bukan tidak mungkin akan terjalin hubungan yang indah (estetis) dan tidak terkesan urakan.

Menunjukkan eksistensi
Sedikit menggeser kursi agar didapat angel yang berbeda, apa yang terjadi mungkin bukan lagi permasalahan salah pegang kunci maupun hirarki logis-etis-estetis. Sebagaimana prinsip probabilitas dalam dunia ilmiah, ada kemungkinan yang terjadi hanyalah saling menunjukkan eksistensi baik individu maupun golongan. Secara psikologis pengakuan dan penerimaan sebagai tujuan dari pertunjukan eksistensi merupakan kebutuhan setiap manusia. Hanya saja sebagai makhluk yang berbudaya, manusia lebih suka jalan berliku untuk mencapai tujuan sekedar menghindari pertentangan dengan norma, nilai-nilai, dan hukum yang berlaku. Karena tuntutan sebagai makhluk yang berbudaya adalah dasar pembedaan manusia dan hewan, tak sepantasnyalah manusia memilih mengabaikan norma, aturan, dan hukum yang berlaku untuk mencapai tujuannya. Menunjukkan eksistensi dengan tetap memberikan jalan pada eksistensi lain sebagaimana diungkapkan oleh Voltaire dengan sangat indah ”aku tidak setuju denganmu, bukan berarti melarangmu untuk mengatakannya”

Ahmad Fahmi Mubarok
psikologi 2006
*dimuat di ekspress edisi ,aret 2008

Rabu, Februari 13, 2008

PILIHAN*


Sekarang saya masih bersyukur harga mendoan di dekat kos saya masih lima ratus rupiah. Saya sempet “was-was” kalo-kalo pedagang angkringan menaikkan harga mendoan terkait dengan naiknya harga kedelai. Barangkali pilihan mereka untuk tidak menaikkan harga dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang: yaitu agar pelanggan tidak pada lari.

Sebuah pilihan memang tidak bisa lepas dari kehendak akal. Cuma ada sedikit perbedaan penekanan bahwa pilihan keputusannya memiliki efek jangka panjang atau jangka pendek. Keputusannya apakah akan mempengaruhi secara mendasar bagi sebagian orang atau kebanyakan orang.

Seringkali keputusan-keputusan tersebut tidak lebih bijak dilakukan oleh orang-orang besar. Saya disini mengandaikan bahwa saya sedang menjadi presiden yang sedang bimbang menghadapi pilihan-pilihan terkait dengan kenaikan harga beras di pasar nasional: pertama, pilihan untuk menyelesaikan kasus pangan sesegera mungkin. Kedua, saya akan menyiapkannya untuk menanggulangi masalah tersebut di masa yang akan datang, karena saya yakin yang perlu diperbaiki ialah inti dasar permasalahan. Dan pilihan ketiga, saya memilih untuk tidak melakukan apa-apa.

Bagi pilihan pertama: sekarang saya membutuhkan usaha untuk “menolong” penduduk saya dalam menghadapi masalah pangan dengan “sesegera” dan secepat mungkin. Konsekuensinya, apabila saya tidak melakukan apa-apa yang dapat dilihat rakyat saya saat ini, popularitas saya akan segera lenyap. Pilihan saya ini terkait citra saya di mata rakyat. Dan saya tidak bisa membayangkan lawan-lawan politik saya akan menelanjangi saya dalam menghadapi pemilu berikutnya. Ini ialah keputusan saya.

Dengan terpaksa, saya harus mengkoordinasikan para menteri-menteri saya untuk “segera’ dapat menangani masalah yang sedang saya hadapi. Seperti biasa, dan sering dilakukan oleh pendahulu saya, saya harus menambah stok beras di pasar agar harga beras di pasar menjadi turun. Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, yang anak SMP pun dengan mudah memahaminya, saya harus mendatangkan beras dari Negara tetangga melalui anggara cadangan periode saya untuk dapat menekan harga beras di pasar. Setelah saya melakukan keputusan tersebut, rakyat pasti akan mengangguk-ngangguk bahwa keputusan saya begitu gesit sehingga masalah pangan dapat cepat terselesaikan.

Kedua, dengan mengorbankan popularitas saya, saya harus memikirkan sendiri apa sebenarnya permasalahan dari masalah pangan dari negeri saya. Selidik punya selidik, bahwa kemampuan produksi pangan di negeri saya tidak mencukupi untuk kebutuhan masyarakat. Dan saya harus mefokuskan diri pada rencana swasembada. Artinya, ini tidak dapat langsung saya lakukan karena saya harus menyiapkan sarana-sarana dan program-program pendukungnya. Barangkali butuh bertahun-tahun untuk menyiapkan swasembada beras. Dengan keputusan ini saya tidak dapat berharap untuk karir politik saya. Dan untuk sementara biarlah masyarakat membeli beras dengan harga yang tinggi, walaupun untuk sementara popularitas saya menurun.

Pilihan ketiga. Biarlah rakyat saya merasakan naiknya harga beras, agar bisa memakan makanan alternative selain beras dan petani saya belajar sendiri untuk “menangkap peluang” atas kenaikan harga-harga beras.

Anehnya: Pilihan pertama begitu baik dan bijaksana bahkan mengacu teori ekonomi yang tidak terbantahkan, tapi akibatnya: membunuh petani. Pilihan kedua kelihatannya bijaksana, walau hasilnya cukup lama. Pilihan ketiga, “kelihatan kejam” dan “dingin”, yang barangkali hasilnya sama-sama dengan pilihan kedua saya, tapi uniknya, menurut saya itu sangat bijaksana. Gimana?

Kalau begitu, barangkali saya tidak perlu ada….

*Giyanto: anak seorang petani

Selasa, Februari 12, 2008

NILAI POLITIK DAN MIMBAR AKADEMIK


Kurang lebih baru dua minggu blog ini terbit. Tapi saya merasa kesepian, tidak seperti ketika saat diskusi, kita begitu bersemangat. Apakah karena saya yang cenderung suka tergesa-gesa untuk selalu menulis, atau karena disebabkan oleh kegirangan di embun pagi, saya sendiri kurang tahu. Tapi, pikiran saya sedikit was-was mengenai “produktivitas temen-temen di embun pagi”. Bukankah kita di sini sama-sama belajar. Namun saya merasa, bahwa yang nulis cuma itu-itu saja.

Okelah, apa yang dikatakan Kang Taufik bisa saya terima. Mungkin temen-temen punya kendala teknis---karena harus ke warnet dan membutuhkan biaya. Atau barangkali seperti yang dikatakan Edi, mungkin kita kurang percaya diri untuk mengungkapkan gagasan kita. Apapun alasannya, saya merasa temen-temen itu mandul!!!

Kambing hitam yang bisa saya salahkan sementara mungkin budaya kita. Entah itu budaya apa, atau nilai-nilai tertinggi dalam hidup kita, dan itu pun nilai apa, yang tahu ialah pribadi kita masing-masing.

Begini, kita disini tidak mencari kebenaran maupun pembenaran, akan tetapi di blog ini, setidaknya ketika masih belia, kita memiliki cukup banyak kesempatan untuk saling belajar, berbagi, bertinteraksi, ataupun berkorespondensi. Dan harapan sangat tinggi saya pertaruhkan di pundak temen-temen untuk mengeluarkan semua gagasan-gagasannya demi mewarnai kehidupan sosial dan pribadi kita agar dapat, setidaknya bisa dikatakan “intelektuil”, kalaupun itu sulit dicapai setidaknya untuk bisa bersenang-senang.

Menarik untuk mengomentari hasil poling sementara. Dari pilihan pertanyaan, sangat jelas bahwa kita memang lebih banyak tertarik dengan kajian politik. Walaupun dalam setiap tulisan tidak semuanya mengkaji politik. Akan tetapi wacana-wacana yang sering kita lontarkan lebih banyak didominasi “wacana kritik kuasa”. Artinya, secara keseluruhan bahwa dalam frame berfikir, kita selalu mengacu pada persoalan politik. Seolah-olah setiap situasi, kesalahan bertitik awal pada interaksi antara yang kuasa dan yang dikuasai. Saya tidak bermaksud menyalahkan kerangka berfikir yang demikian, akan tetapi apakah tidak ada alternatif cara berfikir yang lain?

Kedua, barangkali kita memang hidup dikampus yang memiliki budaya bahwa nilai politik lebih tinggi daripada nilai-nilai ilmiah, semisal kebebasan berpendapat, yang menghargai inovasi-inovasi atau gagasan-gagasan kritis. Anehnya, guru besar kita yang duduk di ruang senat tidak memiliki patokan-patokan yang jelas mengenai seorang rektor yang “ideal”. Yang menurut kriteria saya minimal bisa baca tulis. Dan rektor kita sekarang, yang bukan hasil pilihan kita, benar-benar buta huruf. Menyedihkan!!!

Singkatnya, nilai tertinggi dari lingkungan dimana kita belajar menurut saya sangat berpengaruh. Dengan kata lain, lingkungan kita menjadikan pikiran kita tidak sehat. Ironisnya, itu merupakan kampus kita, dimana seharusnya kebebasan mimbar akademik ditegakkan.


*Giyanto: Mahasiswa Unnes